ILMU DISIPLIN HSE


A.  DISIPLIN

          Di dalam kehidupan sehari-hari, dimana pun manusia berada, dibutuhkan ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang akan mengatur dan membatasi setiap kegiatan dan perilakunya. Namun, peraturan-peraturan tersebut  tidak akan ada artinya bila tidak disertai dengan sanksi bagi para pelanggarnya.
Manusia sebagai individu kadang-kadang ingin hidup bebas, sehingga ia ingin melepaskan diri dari segala ikatan dan peraturan yang membatasi kegiatan dan perilakunya. Namun, tiap individu harus mampu menyesuaikan diri terhadap segala sesuatu yang ditetapkan padanya sehingga tercipta masyarakat yang tertib dan bebas dari kekacauan-kekacauan. Demikian juga kehidupan dalam suatu perusahaan. Perusahaan membutuhkan ketaatan anggota-anggotanya pada peraturan dan ketentuan perusahaan yang berlaku di perusahaan tersebut. Dengan kata lain, diperlukan disiplin kerja pada karyawan sehingga apa yang menjadi tujuan perusahaan dapat tercapai. Tujuan perusahaan akan sukar dicapai bila tidak ada disiplin kerja dari karyawan.

1.  Definisi Disiplin

Disiplin menurut Helmi (1996) merupakan suatu sikap dan perilaku yang berniat untuk mentaati segala peraturan organisasi yang didasari atas kesadaran diri untuk menyesuaikan dengan peraturan organisasi.
Disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan menaati norma-norma peraturan yang berlaku di sekitarnya (Singodimejo dalam Edi Sutrisno, 2009). Edi Sutrisno (2009) mengatakan disiplin menunjukkan suatu kondisi atau sikap hormat yang ada pada diri karyawan terhadap peraturan-peraturan dan ketetapan perusahaan. Disiplin adalah sikap hormat terhadap peraturan dan ketetapan perusahaan yang ada di dalam diri karyawan yang menyebabkan ia dapat menyesuaikan diri dengan sukarela pada peraturan dan ketetapan perusahaan.
Disiplin menurut Darmodiharjo (1982) adalah sikap mental yang mengandung kerelaan untuk mematuhi semua ketentuan, peraturan dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab. Disiplin sangat diperlukan karena  dipandang sebagai faktor pengikat dan integrasi serta merupakan kekuatan yang dapat memaksakan individu untuk  mematuhi peraturan serta prosedur kerja yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Disiplin mengacu pada pola tingkah laku dengan ciri–ciri sebagai berikut:
a.  Adanya hasrat yang kuat untuk melaksanakan sepenuhnya apa yang sudah menjadi norma, etika, kaidah yang berlaku.
b.  Adanya perilaku yang terkendali, dan
c.  Adanya ketaatan.
Prijodarminto (1994) menyatakan disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban.
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan disiplin adalah perilaku seseorang yang sesuai dengan peraturan, prosedur kerja yang ada, taat terhadap peraturan yang ada atau disiplin adalah sikap, tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari organisasi baik yang  tertulis maupun secara lisan.
Dengan demikian perilaku dalam kaitannya dengan penggunaan alat pelindung  diri ini adalah seberapa jauh sikap individu memberikan perhatian secara optimal terhadap penggunaan alat pelindung diri.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disiplin
Menurut Singodimedjo (dalam Edi, 2009), ada beberapa faktor yang mempengaruhi disiplin karyawan, yaitu :

a.  Besar kecilnya pemberian kompensasi.
Besar kecilnya kompensasi dapat mempengaruhi tegaknya disiplin.
Karyawan akan mematuhi segala peraturan yang berlaku bilaia merasa mendapat jaminan balas jasa yang setimpal dengan  jerih payahnya yang telah dikontribusikan kepada perusahaan.

b.  Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan.
Keteladanan pimpinan sangat penting karena dalam lingkungan peusahaan dimana karyawan akan selalu memperhatikan bagaimana pimpinannya dalam menegakkan disiplin dirinya dan bagaimana ia dapat mengendalikan dirinya dari ucapan, perbuatan dan sikap yang dapat merugikan aturan disiplin yang sudah diterapkan.

c.  Ada tidaknya aturan yang pasti yang dapat dijadikan pegangan.
Disiplin tidak mungkin diterapkan bila peraturan yang dibuat hanya
berdasarkan instruksi lisan yang dapat berubah-ubah. Oleh sebab itu, disiplin dapat ditegakkan dalam suatu perusahaan jika ada aturan tertulis yang telah disepakati antara pimpinan dan karyawan. Dengan demikian, karyawan  mendapat kepastian bahwa siapa saja dan perlu dilakukan sanksi bagi yang melanggar tanpa pandang buluh.

d.  Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan.
Bila ada seorang karyawan yang melanggar disiplin, maka perlu ada keberanian pimpinan untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dibuatnya. Dengan adanya tindakan terhadap pelanggar disiplin sesuai dengan sanksi yang ada, maka semua karyawan akan merasa terlindungi. Sebaliknya, jika pimpinan tidak berani mengambil tindakan pada karyawan yang melanggar disiplin, hal itu akan berpengaruh pada karyawan lainnya. Karyawan akan berkata “untuk apa disiplin, sedangkan orang yang melanggar saja tidak pernah kena sanksi”.

e.  Ada tidaknya pengawasan pimpinan.
Dengan adanya pengawasan, maka sedikit  banyaknya karyawan akan terbiasa melaksanakan disiplin. Bagi sebagian karyawan yang sudah menyadari arti disiplin, pengawasan tidak diperlukan lagi. Namun untuk karyawan lainnya, menegakkan disiplin harus dilakukan dengan dipaksa dan diawasi.

f.  Ada tidaknya perhatian kepada para karyawan.
Pimpinan yang berhasil memberi perhatian yang besar pada karyawan akan dapat menciptakan disiplin kerja yang baik. Karena ia tidak hanya dekat secara fisik, tetapi juga mempunyai jarak dekat dalam arti batin. Pimpinan yang demikian selalu dihormati dan dihargai oleh karyawan.

g.  Diciptakan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin.

Disiplin kerja merupakan suatu sikap dan perilaku.
Pembentukan perilaku jika dilihat dari formulasi Kurt Lewin adalah interaksi antara faktor pribadi dan faktor lingkungan (situasional).

a)  Faktor Kepribadian.

Faktor kepribadian yang penting dalam kepribadian seseorang adalah sistem nilai yang dianut. Sistem nilai yang dianut berkaitan langsung dengan disiplin. Nilai-nilai yang menjunjung disiplin yang ditanamkan oleh orang tua atau guru yang akan digunakan sebagai acuan dalam disiplin di dunia kerja. Sistem nilai ini akan terlihat dari sikap seseorang. Perubahan sikap ke dalam perilaku terdapat 3 tingkatan menurut Kelman (dalam Brigham,1994), yaitu:

i.  Disiplin karena kepatuhan.
Kepatuhan terhadap aturan-aturan yang didasarkan pada perasaan takut. Disiplin kerja pada tingkatan ini dilakukan semata-mata untuk mendapatkan reaksi positif dari pimpinan atau atasan yang berwenang. Sebaliknya, jika  pengawas tidak ada di tempat, disiplin kerja tidak tampak.

ii.  Disiplin karena identifikasi.
Kepatuhan aturan yang didasarkan pada identifikasi adalah adanya perasaan kagum pada pimpinan. Karyawan yang menunjukkan disiplin terhadap aturan lebih disebabkan pada  keseganan pada atasannya. Karyawan merasa tidak enak jika tidak mematuhi aturan. Jika pusat identifikasi ini tidak ada, maka disiplin kerja akan menurun dan meningkatnya frekuensi pelanggaran.

iii.  Disiplin karena internalisasi.
Disiplin ini terjadi karena karyawan memiliki sistem nilai pribadi yang menjunjung tinggi disiplin.

 

b)  Faktor Lingkungan

Disiplin kerja yang tinggi tidak muncul begitu saja tetapi merupakan proses belajar yang terus menerus. Agar proses belajar ini dapat efektif, pimpinan harus memperhatikan prinsip-prinsip konsistensi, adil, bersikap positif, dan terbuka. Konsisten memberlakukan aturan secara konsistensi secara terus menerus. Adil dalam memperlakukan seluruh karyawan, tidak membeda-bedakan karyawan. Bersikap positif adalah setiap pelanggaran yang dibuat, dicari faktanya dan dibuktikan terlebih dahulu. Komunikasi terbuka adalah kuncinya. Transparansi mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, termasuk di dalamnya sanksi dan hadiah.

3.  Aspek-aspek Disiplin

Disiplin membuat karyawan mampu membedakan hal-hal apa yang harus dilakukan, yang wajib dilakukan, boleh dilakukan, yang sepatutnya dilakukan, dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan karena dianggap melanggar peraturan yang ada.
Prijodarminto (1994) mengemukakan bahwa disiplin  memiliki 3 (tiga) aspek, yaitu:

a)  Sikap mental (mental attitude) 
Seseorang memiliki sikap yang taat dalam mematuhi peraturan yang berlaku di tempat ia bekerja. Mereka akan bertindak dengan tertib terhadap aturan-aturan yang mengaturnya. Karyawan juga mampu mengendalikan pikiran bahwa harus bersikap sesuai dengan aturan yang ada di dalam perusahaan.

b)  Pemahanan yang baik melalui sistem aturan perilaku, norma, kriteria dan standar yang sedemikian rupa.                                                           Pemahaman yang baik terhadap peraturan perusahaan menimbulkan pengertian yang mendalam terhadap peraturan tersebut serta timbulnya kesadaran dalam mematuhi dan melaksanakan aturan yang ada dalam suatu perusahaan.

c)  Sikap kelakuan yang secara wajar menunjukkan kesungguhan hati untuk menaati segala hal secara cermat dan tertib.
Seseorang benar-benar menaati segala aturan yang ada dengan sungguh-sungguh, mereka tidak melanggar aturan yang ada karena mereka punya kesungguhan hati dalam menaati peraturan yang berlaku dengan cermat.

4.  Jenis- jenis Disiplin

1.  Self dicipline.
Disiplin ini timbul karena seseorang merasa terpenuhi kebutuhannya dan telah menjadi bagian dari organisasi, sehingga orang akan tergugah hatinya untuk sadar dan secara sukarela mematuhi segala peraturan yang berlaku.

2.  Command dicipline.
Disiplin ini tumbuh  bukan dari perasaan ikhlas, akan tetapi timbul karena adanya paksaan/ancaman orang lain. Dalam setiap organisasi, yang diinginkan pastilah jenis disiplin yang pertama, yaitu datang karena kesadaran dan keinsyafan. Akan tetapi kenyataan selalu menunjukkan bahwa disiplin itu lebih banyak di sebabkan oleh adanyan semacam paksaan dari luar.

 

B.   ALAT PELINDUNG DIRI

1)   Definisi Alat Pelindung Diri
Alat Pelindung Diri (APD) adalah peralatan keselamatan yang harus digunakan oleh karyawan apabila berada pada suatu tempat kerja yang berbahaya.
Definisi menurut organisasi buruh International Labour Office APD adalah suatu peralatan perlindungan perorangan sebagai garis pertahanan terakhir, peralatan ini dirancang untuk mencegah bahaya luar agar tidak mengenai  tubuh  pekerja.
Habsari (2003) mengatakan bahwa APD adalah seperangkat alat yang digunakan karyawan untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya kecelakaan kerja.
Menurut Shahab (1997) APD adalah alat yang digunakan seseorang dalam melakukan pekerjaan dengan maksud melindungi dirinya dari sumber bahaya
tertentu, baik yang berasal dari pekerjaan dan lingkungan kerja, dan berguna dalam usaha mencegah atau mengurangi kemungkinan cedera atau sakit. Alat pelindung diri adalah alat yang dipergunakan untuk tujuan melindungi karyawan dari risiko cedera yang disebabkan oleh bahaya-bahaya yang ada di tempat kerja.
APD merupakan peralatan yang harus disediakan oleh pengusaha oleh karyawan. Kewajiban menggunakan APD itu sendiri telah disepakati oleh pemerintah melalui departemen tenaga kerja Republik Indonesia. APD yang diberikan kepada karyawan juga harus memenuhi persyaratan.
Menurut Suma’mur, APD yang baik adalah yang memenuhi persyaratan:
a.  Enak dipakai,
b.  Tidak mengganggu pekerjaan/kenyamanan, dan
c.  Memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya.
Persyaratan APD yang digunakan menurut Budiono (2006) perlu dipilih secara hati-hati agar dapat memenuhi beberapa ketentuan yang diperlukan yaitu:
a.  Harus memberikan perlindungan yang tepat terhadap  potensi bahaya yang ada,
b.  APD seringan mungkin dan tidak menyebabkan rasa tidak nyaman berlebihan,
c.  Bentuknya harus cukup menarik dan dapat dipakai secara fleksibel,
d.  Tahan untuk pemakaian yang lama, memenuhi standar yang telah ada serta suku cadangnya mudah didapat, dan
e.  Tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakaian yang dikarenakan  bentuk dan bahannya yang tidak tepat atau karena penggunaan yang salah.

2)  Jenis-jenis Alat Pelindung Diri
Berikut beberapa alat perlindungan diri:

a.  Kacamata
Salah satu masalah tersulit dalam pencegahan kecelakaan adalah pencegahan kecelakaan yang menimpa mata. Jumlah kecelakaan demikian besar. Orang-orang yang tidak terbiasa dengan kacamata biasanya tidak memakai perlindungan tersebut dengan alasan mengganggu pelaksanaan pekerjaan dan mengurangi kenikmatan kerja, sekalipun kacamata pelindung yang memenuhi persyaratan. Memiliki kacamata pelindung tidak cukup, tenaga kerja harus memakainya. Banyak upaya diselenggarakan ke arah pembinaan disiplin, atau melalui pendidikan dan penggairahan, agar tenaga kerja memakainya. Tenaga kerja yang berpandangan bahwa resiko kecelakaan terhadap mata adalah besar akan memakainya dengan kemauan sendiri. Sebaliknya, jika mereka merasa bahwa bahaya itu kecil, mereka tidak akan mempergunakannya.
Kesukaran ini dapat di atas dengan berbagai cara. Pada beberapa perusahaan, tempat-tempat kerja dengan bahaya kecelakaan mata hanya boleh dimasuki jika kacamata pelindung digunakan. Sebagai akibatnya, pada tempat-tempat tersebut tenaga kerja selalu memakai kacamata pelindung selama jam kerja, dan siapa saja yang tidak menggunakan kacamata pelindung akan merasa paling asing dari tenaga kerja lainnya.
Kecelakaan mata berbeda-beda dan aneka jenis kacamata pelindung diperlukan. Misalnya, pekerjaan dengan kemungkinan adanya resiko benda yang melayang memerlukan kacamata dengan lensa yang kokoh. Sedangkan untuk bagian pengelasan, diperlukan kacamata dengan lensa penyaring sinar yang tepat.

b.  Sepatu Pengaman
Sepatu pengaman harus dapat melindungi tenaga kerja dari kecelakaan-kecelakaan yang disebabkan oleh beban-beban berat yang menimpa kaki, paku-paku atau benda tajam lainnya yang mungkin terinjak, logam pijar, asam-asam dan sebagainya. Biasanya sepatu kulit yang buatannya kuat dan baik cukup memberikan perlindungan. Akan tetapi untuk kemungkinan tertimpa benda berat masih diperlukan sepatu dengan ujung tertutup baja dan lapisan baja di dalam solnya. Lapis baja di dalam sol perlu untuk melindungi tenaga kerja dari tusukan benda-benda runcing dan tajam khususnya pada pekerja bangunan.
Pekerja-pekerja lisrtik menggunakan sepatu pengaman jenis lainnya, yaitu sepatu non-konduktor—sepatu tanpa paku-paku logam. Tenaga kerja yang bekerja di tempat yang memungkin terjadinya ledakan menggunakan sepatu yang tidak menimbulkan ledakan api.

c.  Sarung Tangan
Sarung tangan harus diberikan kepada tenaga kerja dengan pertimbangan akan bahaya-bahaya dan persyaratan yang diperlukan. Antara lain syaratnya adalah bebasnya bergerak jari dan tangan. Variasinya tergantung pada kecelakaan yang akan dicegah, misalnya seperti tusukan, sayatan, terkena benda panas, terkena bahan kimia, terkena aliran listrik, terkena radiasi dan sebagainya. Hal  yang perlu diingat bahwa ketika bekerja dengan mesin pengebor, mesin pengepres dan mesin-mesin lainnya yang dapat menyebabkan tertariknya sarung tangan adalah bahaya.
Jenis-Jenis Safety Glove:

i.  Sarung tangan Metak Mesh  
Sarung  metal mesh  tahan terhadap ujung yang lancip dan
menjaga  agar jari tidak terpotong.

ii.  Sarung tangan kulit
Sarung tangan yang terbuat dari kulit ini akan melindungi
tangan dari permukaan kasar.

iii.  Sarung tangan Vinyl dan neoprene  
Melindungi tangan terhadap bahan kimia beracun

iv.  Sarung tangan Padded Cloth
Melindungi tangan dari ujung yang tajam, pecahan gelas,
kotoran dan vibrasi.

v.  Sarung tangan Heat resistant
Mencegah terkena panas dan api.

vi.  Sarung tangan karet
Melindungi saat bekerja disekitar arus listrik karena karet
merupakan  isolator (bukan penghantar listrik).

vii.  Sarung tangan Latex disposable
Melindungi tangan dari kuman dan bakteri, sarung tangan ini
hanya  untuk sekali pakai.

viii.  Sarung tangan lead lined  
Digunakan untuk melindungi tangan dari sumber radiasi.

d.  Topi Pengaman
Topi pengaman harus dipakai oleh tenaga kerja yang mungkin tertimpa di bagian  kepala oleh benda jatuh atau melayang atau benda lainnya yang bergerak. Topi demikian harus cukup keras dan kokoh, tetapi tetap ringan. Bahan plastik dengan lapisan kain terbukti sangat cocok untuk keperluan ini.

e.  Sekor
Sekor sangat baik untuk perlindungan terhadap bahan kimia, kemungkinan terkena panas, keadaan basah atau berminyak, tetapi tidak boleh digunakan di dekat mesin.

f.  Pelindung Telinga
Telinga harus dilindungi,  misalnya seperti dari loncatan api, percikan logam pijar, atau partikel-partikel yang melayang. Perlindungan terhadap kebisingan dilakukan dengan sumbat atau tutup telinga.

g.  Pelindung Paru-paru
Paru-paru harus dilindungi saat udara tercemar atau ada kemungkinan kekurangan oksigen dalam udara. Pencemaran-pencemaran mungkin berbentuk gas, uap logam, kabut, debu dan lain sebagainya. Kekurangan oksigen mungkin terjadi di tempat-tempat yang pengudaraannya buruk seperti tangki atau gudang di bawah tanah.
Pencemaran-pencemaran yang berbahaya mungkin beracun, korosif, atau menjadi sebab rangsangan. Pengaruh lainnya termasuk dalam upaya kesehatan kerja.

h.  Fall Protection
Misalnya pakaian pengaman dan sabuk pengaman.

i.  Pelindung Wajah
Pelindung wajah yang dikenal adalah :

- i.  Goggles
Goggles  memberikan pelindungan lebih baik dari pada  safety glasses  karena  goggles  terpasang dekat wajah. Karena  goggles mengitari area mata, maka  goggles  melindungi lebih baik pada situasi yang mungkin tejadi percikan cairan, uap logam, uap,
serbuk, debu, dan kabut.

- ii.  Face shield
Face shield  memberikan perlindungan wajah menyeluruh dan sering digunakan pada operasi peleburan logam, percikan bahan kimia ,atau partikel yang melayang. Banyak face shield yang dapat digunakan bersamaan dengan pemakaian hard hat. Walaupun face shield  melindungi wajah, tetapi  face shield  bukan pelindung mata yang memadai, sehingga pemakaian safety glasses harus dilakukan dengan pemakaian Face Shield.

- iii.  Welding Helmets
Jenis pelindung wajah yang lain adalah  Welding Helmets (Topeng Las). Topeng las memberikan perlindungan pada wajah dan mata. Topeng las memakai lensa absorpsi khusus yang menyaring cahaya yang terang dan energi radiasi yang dihasilkan selama operasi pengelasan. Sebagaimana  Face Shield,  Safety Glasses  atau Goggles harus dipakai saat menggunakan helm las.

- iv.  Masker wajah.
Masker berfungsi untuk melindungi hidung dari zat zat berbau menyengat dan dari debu yang merugikan.

j.  Alat-alat Perlindungan Diri Lainnya.
Sesuai dengan ketentuan Pasal 14C UU Keselamatan Kerja No. 1 Tahun 1970, pengusaha wajib menyediakan alat perlindungan diri secara cuma-cuma sesuai dengan sifat bahayanya.

Gambar 1. Alat Pelindung Diri

3.  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan APD

Menurut Setyawati (2008), faktor yang mempengaruhi penggunaan APD antara lain: usia, pengalaman kerja, persepsi, lingkungan kerja, jam kerja, shift kerja, beban kerja, sifat pekerjaan, komunikasi, dan manajemen.
Faktor lain yang mempengaruhi penggunaan APD adalah :
1.  Faktor lingkungan kerja.
2.  Beban kerja yang dirasakan saat bekerja.
3.  Faktor pekerja, seperti pendidikan, masa kerja, sikap, pengetahuan, kenyamanan, usia.
4.  Pengawasan. Perusahaan mengawasi karyawan dalam menggunakan APD. Adanya pemberian  reward-punishment  kepada karyawan, serta pujian kepada karyawan yang taat terhadap peraturan perusahaan.

C.  KARYAWAN

Buruh merupakan suatu istilah yang sangat populer dalam dunia
ketenagakerjaan. Bahkan istilah ini telah digunakan pada zaman penjajahan Belanda. Pada zaman penjajahan Belanda, buruh  (Blue Collar)  adalah pekerja kasar, kuli, tukang mandor dan sebagainya. Sedangkan buruh yang melakukan
pekerjaannya di kantor disebut dengan karyawan  (White Collar)  (Husni, 2005). Setelah Indonesia merdeka, tidak ada lagi perbedaan antara Blue Collar dan White Collar, semua orang yang bekerja disebut dengan buruh. Seiring dengan perkembangan UU, istilah buruh diganti dengan pekerja. Alasannya karena istilah  buruh kurang sesuai dengan kepribadian  bangsa dan cenderung merujuk pada golongan yang selalu ditekan dan berada di bawah pihak lain.
Istilah pekerja secara yuridis ditemukan dalam UU No. 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan yang membedakannya dengan pengertian tenaga kerja.
Dalam UU ini dinyatakan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang laki-laki atau wanita yang sedang dalam dan/atau akan melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan pengertian ini jelas bahwa pengertian tenaga kerja sangat luas yakni mencakup semua penduduk dalam usia kerja. Sedangkan menurut Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 Ayat 4 menyatakan pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan  menerima upah atau imbalan dalam bentuk apa pun.    Jadi, pekerja adalah sebagian dari tenaga kerja.

D.  KAITAN DISIPLIN KARYAWAN DALAM  MENGGUNAKAN
ALAT PELINDUNG DIRI

Keselamatan dan kesehatan merupakan kebutuhan dasar manusia dan menjadi naluri dari setiap makhluk hidup. Sejak manusia bermukim di muka bumi ini, secara tidak sadar mereka berusaha melindungi diri dari segala bahaya yang ada di sekitar hidupnya. Berbagai macam potensi bahaya tersebut bisa juga dijumpai dalam lingkungan tempat kerja.
Setiap tahun ribuan kecelakaan terjadi di tempat kerja yang menimbulkan korban jiwa, kerusakan materi dan gangguan produksi. Tahun 2007, menurut Jamsostek tercatat 65.474 kecelakaan yang mengakibatkan 1.451 orang meninggal, 5.326 orang cacat tetap dan 58.697 orang cedera.  Hasil penelitian yang diadakan ILO (Organisasi Perburuhan Internasional) mengenai standar kecelakaan kerja menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-152 dari 153 negara yang ditelitinya. Ini berarti, begitu buruknya masalah kecelakaan kerja di Indonesia.
Kecelakaan kerja terjadi paling banyak disebabkan oleh kesalahan manusia (human error). Hal senada juga dikemukakan oleh Suma’mur  yang menyatakan bahwa 85% penyebab kecelakaan adalah faktor manusia.  Beberapa faktor penyebab terjadi kecelakaan baik yang telah menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka sebagai terjadinya kegagalan konstruksi yang antara lain disebabkan tidak dilibatkannya ahli teknik konstruksi, penggunaan metode pelaksanaan yang kurang tepat, lemahnya pengawasan pelaksanaan konstruksi dilapangan, belum sepenuhnya melaksanakan ketentuan-ketentuan atau peraturan – peraturan yang menyangkut K3 yang telah ada, lemahnya pengawasan penyelenggaraan K3, kurang memadainya baik dalam kualitas dan kuantitas ketersediaan peralatan pelindung diri (APD) dan kurang disiplinnya para tenaga kerja di dalam mematuhi ketentuan mengenai K3 yang antara lain pemakaian alat pelindung diri kecelakaan kerja.
Tingginya angka kecelakaan pekerja mendorong berbagai kalangan berupaya meningkatkan perlindungan bagi pekerja.  Salah satu perlindungan kepada karyawan adalah perlindungan secara fisik. Tenaga kerja harus memperoleh perlindungan dari berbagai hal di lingkungan sekitarnya yang dapat menimpa dan mengganggu dirinya serta pelaksanaan pekerjaannya. Salah satu cara cara pencegahan kecelakaan yang terbaik adalah karyawan perlu diberikan alat perlindungan diri.
Saat teknologi mulai berkembang, desain alat-alat proteksi diri sama sekali tidak memadai atau tenaga kerja tidak memakainya sama sekali oleh karena mereka lebih senang tanpa perlindungan. Hal ini bisa berakibat terjadinya kecelakaan pada kepala, mata, kaki dan sebagainya. Sekarang pun, alat-alat perlindungan diri masih dianggap oleh tenaga kerja sebagai mengganggu pelaksanaan kerja sehingga menyebabkan karyawan tidak disiplin dalam menggunakannya.
Banyak faktor yang mempengaruhi disiplin karyawan dalam menggunakan APD. Disimpulkan bahwa faktor-faktornya antara lain seperti karakteristik individu, manajemen perusahaan dan desain APD yang digunakan mempengaruhi disiplin karyawan dalam menggunakan APD. Karakteristik individu meliputi usia, masa kerja, pendidikan. Faktor yang berasal dari manajemen perusahaan seperti pemberian  reward  dan  punishment, adanya pengawasan dari perusahaan terhadap karyawan, pemberian sanksi dan sebagainya. Sedangkan faktor desain meliputi ukuran APD yang digunakan, bahan APD yang digunakan, kenyamanan dalam penggunaan APD dan kefleksibelitasan APD yang digunakan.
Prijodarminto (1994) menyatakan disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Dengan demikian perilaku dalam kaitannya dengan penggunaan alat perlindungan diri ini adalah seberapa jauh sikap individu memberikan perhatian secara optimal terhadap penggunaan alat perlindungan diri. Perusahaan membutuhkan ketaatan anggota-anggotanya pada peraturan dan ketentuan perusahaan yang berlaku di perusahaan tersebut. Dengan kata lain, diperlukan disiplin kerja pada karyawan sehingga apa yang menjadi tujuan perusahaan dapat tercapai. Tujuan perusahaan akan sukar dicapai bila tidak ada disiplin kerja dari karyawan.

Best Regard

Prima Purwa Lesmana

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s